DIANTARA HARAPAN DAN KENYATAAN

oleh -375 Dilihat

Oleh : Denny.AR
Dunia masih terus berputar musimpun silih berganti dan hari-hari terus berlari meninggalkan jejak setiap langkah ‘pun desah nafas tiap jiwa-jiwa pada hamparan dunia dan kehidupan ini
Dan setiap yang bernyawa pasti menemui ajal ( Kematian)
Manusia dari masa kemasa,Datang dan pergi silih berganti ikuti takdir masing-masing.Yang ada jadi tiada, yang tak ada datang membawa cerita untuk dibawa kealam keabadian nan tiada ujung.
Disana ( ahirat) tak banyak pilihan kecuali dua. Surga dan neraka,,nikmat atau siksa.
Untuk kita manuisa beragama tentu harus meyakini bahwa mati itu pasti datang,kepercayaan itu untuk mengendalikan hawa nafsu negative yang dibisikan pada setiap hati-hati manusia ( Fi sudhurinnas) oleh syetan musuh yang nyata bagi manusia beriman.
Namun jika kita mau jujur, berapa menit atau berapa jam kita pernah merenung mengingat kematian dalam sehari,seminggu bahkan sebulan.
Dari sekian ribu manusia berapa persen yang suka mengingat akan datangnya kematian,secara rutin…?
,( Jujur) sangat jarang, dalam hari hari kita dalam setiap desah nafas yang terlepas ,kita mengingat mati.padahal semakin hari, jarak kita pada kematian semakin dekat.Semakin tambah usia semakin rapatlah pada staciun terahir kehidupan.
Wama khalaqtul jinaa wal insa illa liya budu ( Tidak semata-mata kami ciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah ) Lantas,kenapa kita selalu terlena oleh dunia yang sementara ini,mengapa kita lupa pada perjalanan panjang yang akan ditempuh dalam kehidupan yang kedua kelak. Mengapa mengingat kematian terasa begitu menakutkan dan horror padahal di ingat ataupun tidak dingat kematian pasti tiba.tinggal menunggu waktu yang telah ditentukan oleh yang maha kuasa.Kematian tidak bisa kita inginkan ( dipercepat) juga tidak bisa dihindari (diperlambat) sekali Tuhan berkata Kun maka Fayakun atas segala perkara.
Maka sudah sepantasnyalah sejak sekarang kita semua meluangkan waktu secara periodic ( rutin) mengingat akan kepulangan kita pada kehidupan kedua yang abadi.( kampung Ahirat). Kalaupun tidak setiap shallat,bisa setiap hari sekali,seminggu sekali,atau sebulan sekali kita meluangkan waktu untuk merenung bahwasanya sauatu saat nafas ini pasti berhenti…kita akan sampai kepada staciun ahir hidup kita,.caranya cukup sederhana hanya dengan melaksanakan tugas dan perintahNYA sesuai dengan tujuan manusia diciptakan oleh Tuhan yaitu disuruh beribadah.cara dan jenisnya sangat banyak sesuai dengan kemampuan kita masing-masing. Merenungkan kematian dan berdoa itupun merupakan ibadah.
Seumur hidup kita sudah begitu banyak menyaksikan ragam macam sebab kematian,ada yang karena sakit,ada yang karena musibah dan lain-lain.Tidak ada satupun manusia yang bisa menolaknya.Leluhur kita sudah pada tiada,nenek kakek kita bahkan ibu bapak kita malah sudah ada yang mendahului kita.Tidakkah hal tersebut menjadi peringatan dan bahan renungan bahwa suatu saat kitapun akan mengikuti mereka.
Sudah bisa dipastikan bahwa kita semua mengharafkan kematian kita dalam keadaan Khusnul khatimah,kematian dalam ujung kebaikan tidak malah sebaliknya dalam keadaan su’ul khatimah berujung dalam keburukan.Audubilahi min dzalik.Pupuklah harafan seperti itu sejak saat ini meskipun kenyataannya kita sering lupa bahkan mungkin lupa sama sekali untuk merenungkan hal tersebut.
Marilah sejak saat ini berlomba-lomba menuju kebaikan ( fastabikhul khaerat)sejak saat ini. Yaaa sejak saat ini…carilah bekal sebanyak-banyaknya untuk bekal perjalanan panjang kelak di alam keabadian kita.
Wallahu alam bissawab…..

No More Posts Available.

No more pages to load.